Surat Terbuka kepada Bupati Kabupaten Malaka

SEBAGIAN masyarakat petani garam Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai resah, gelisah dan kuatir. Lahan mereka diambil pemerintah. Pengusaha beraksi.  Kerusakan alam sudah pasti. Laut menjadi ancaman bencana. Abrasi sudah tentu terjadi. Hak adat rakyat tidak jelas. Setidaknya, itulah kondisi yang sedang dialami masyarakat Desa Fafoe dan Motaain.

Ada kicauan di media sosial facebook milik Yos Seran yang ditautkan di facebook Grup Pilkada Malaka 2015 berupa sebuah Surat Terbuka Kepada Bupati Kabupaten Malaka.  

Berikut kutipan lengkap status Yos Seran itu:

YTH. BAPAK BUPATI MALAKA DI KABUPATEN MALAKA

SEBELUM SAYA MEMBAHAS TERLEBIH JAUH MENGENAI APA YANG MENJADI TUJUAN SURAT TERBUKA INI, TERLEBIH DAHULU SAYA INGIN MENYAMPAIKAN BAHWA SURAT TERBUKA INI BUKANLAH SUATU SINISME YANG MEMUAT UNSUR POLITIK DIDALAMNYA. SAYA HANYA INGIN MENGKRITISI PERKEMBANGAN USAHA TAMBAK GARAM YANG SEDANG GENCAR DI KABUPATEN MALAKA TERCINTA.

BEBERAPA DESA DI KABUPATEN MALAKA RUPANYA SUDAH SETUJU DENGAN PENGADAAN PROYEK TAMBAK GARAM TERSEBUT. DAN ENTAH SAMPAI DIMANA PERKEMBANGANNYA KARENA RUPANYA KESUKSESAN YANG DIRASAKAN KARENA KEBERADAAN PROGRAM TERSEBUT NYATANYA SANGAT TIDAK PRO RAKYAT. MENGAPA SAYA BERANI KATAKAN DEMIKIAN?  MARI KITA BICARA SOAL FAKTA. SOAL REALITA. JANGAN DULU KITA KALKULASIKAN DAN MEMBAYANGKAN SEGUNUNG RUPIAH YANG NAMPAK DI DEPAN MATA KITA JIKA NYATANYA KARENA ALASAN RUPIAH SEGUNUNG  TERSEBUT LANTAS RAKYAT DISENGSARAKAN.

REALITA YANG HARUS KITA SADARI BERSAMA DAN MEMBUTUHKAN FOKUS DAN KONSENTRASI PENUH DARI PUBLIK TERKAIT PERMASALAHAN INI IALAH PERUSAKAN DAERAH PESISIR PANTAI, MELAWAN PRINSIP LINGKUNGAN HIDUP DAN TENTU YANG AKAN SANGAT NYATA TERJADI ADALAH HILANGNYA MATA PENCAHARIAN PETANI.

SAYA BERANI MEMBERIKAN SURAT TERBUKA INI KARENA SAYA TAHU BAHWA BANYAK ORANG BERSUARA DENGAN BERBAGAI OPINI TAPI SAYANG SEKALI MEREKA TIDAK SECARA GAMBLANG MENYAMPAIKAN GAGASAN MEREKA ENTAH KARENA FAKTOR INTERN ATAUPUN EKSTERN.

SAYA BERASAL DARI SEBUAH DESA KECIL DIDAERAH PESISISI KABUPATEN MALAKA. FAFOE NAMANYA. ITU SARANGNYA SARJANA DARI BERBAGAI DISIPLIN ILMU. SAAT INI DESA SAYA DAN DESA MOTA’AIN SEDANG SANGAT CEMAS. MENGAPA DEMIKIAN? YA, KARENA ALASAN YANG SAMA SEPERTI DIATAS. SAYA TURUT MEMBAHAS DESA MOTA’AIN DALAM HAL INI KARENA SECARA ADAT, SAYA MEMILIKI SEPARUH HAK ADAT DI DAERAH TERSEBUT SEBAGAI RAI TARA KELEN DAN KAMELIN YANG SUDAH SANGAT DIJAGA SEJAK ZAMAN DAHULU DAN AKAN TETAP KAMI PERTAHANKAN BUDAYA DAN ADAT KAMI INI SELAMANYA.

BEBERAPA KALI LALU, SUDAH BERUSAHA DILAKUKAN PENGGUSURAN MENGGUNAKAN ALAT BERAT DI PESISIR DAERAH MOTA’AIN. DENGAN SENGAJA ATAU MEMANG KARENA DIKEJAR DENGAN SERIBU METODE YANG SAYA JUGA TIDAK PAHAM, BAKAU-BAKAU YANG TUMBUH SUBUR DI PESISIR DI GILAS HABIS OLEH ALAT-ALAT BERAT TERSEBUT. HAL INI TENTU SANGAT BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP LINGKUNGAN HIDUP YANG SEDANG GENCAR-GENCARNYA MENYUARAKAN GLOBAL WARNING. TENTU KITA SEMUA PAHAM FUNGSI DARI TANAMAN-TANAMAN CANTIK DIDAERAH PESISIR TERSEBUT. TUGAS MEREKA ADALAH MENAHAN ABRASI. RUPANYA PERUSAHAAN PENGELOLA PROYEK INI SECARA SADAR SENGAJA MEMBIARKAN HAL INI TERJADI. BAKAU MATI DAN SEGALA MAKHLUK YANG HIDUP DISANA HARUS KEHILANGAN TEMPAT TINGGAL. ABRASI PUN BUKAN TIDAK MUNGKIN TERJADI. AIR LAUT SEMAKIN NAIK KE PERMUKAN DARATAN.

SAYA DENGAN TEGAS MENOLAK KEBERADAAN PROYEK INI DI DAERAH SAYA. SAYA CINTA LINGKUNGAN HIDUP. SAYA CINTA ADAT ISTIADAT SAYA DAN SAYA AKAN TERUS BERSUARA UNTUK MENDAPATKAN KEADILAN KEPADA SAUDARA-SAUDARA SAYA DISANA DAN DEMI KEBERLANGSUNGAN KEHIDUPAN SEGALA MAKHLUK YANG ADA DISANA.

SAYA DENGAN TEGAS MENOLAK PROYEK INI KARENA JELAS SANGAT MERUGIKAN. KAMI DESA FAFOE DAN MOTA’AIN IALAH LUMBUNG SARJANA. KAMI MENJADI SARJANA KARENA KERJA KERAS ORANG TUA KAMI MENGELOLA TANAH. MENANAMINYA DENGAN BERBAGAI TANAMAN. MEREKA MENUAI, MENJUAL MENJADIKAN UANG TUK MEMBIAYAI PENDIDIKAN KAMI. YANG KAMI MAKAN SAAT KELAPARAN ADALAH MAKANAN BUKAN GARAM.

APA YANG AKAN KAMI WARISKAN KEPADA ANAK CUCU KAMI KELAK? GARAM?

KETAHUILAH BAHWA SEKETIKA JUGA SAAT TANAH SUDAH DIGARAP MENJADI LADANG GARAM, MAKA SEUMUR HIDUP MUSTAHIL 100% TUK BISA DI TANAMI LAGI. DUIT YANG DIBAYARKAN BERAPA PULUH JUTA PUN KEPADA MASYARAKAT AKAN HABIS HANYA DALAM HITUNGAN. SEDANGKAN KRISIS GLOBAL AKIBAT PENGADAAN PROYEK INI AKAN TERUS BERLANJUT SELAMANYA. KAMI INGIN GENERASI KAMI DAN GENERASI PENERUS KAMI TETAP MENIKMATI INDAHNYA BERKEBUN, INDAHNYA MEMANEN JAGUNG, PADI, DLL.

SAYA MEMINTA BAPAK BUPATI, DPRD DAN SEGALA PIHAK YANG BERKOMPETEN DI KABUPATEN MALAKA BISA MENYIKAPI PERMASALAHAN INI DAN SEGERA MENYELESAIKAN MASALAH INI. PROYEK HARUS DIHENTIKAN DI DAERAH KAMI DAN BIARKAN KAMI MENIKMATI INDAHNYA BERTANI. KAMI TIDAK INGIN SIAPA PUN MEMINUM PUAS SUSU DAN MADU DARI DAERAH KAMI LALU MENINGGALKAN RATAP TANGIS TUK KAMI DAN ANAK CUCU KAMI DI KEMUDIAN HARI.

SEMOGA SEGERA TEREALISASI!

SALAM HORMAT SAYA,

(RIA SERAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *