PN Atambua Diduga Salah Eksekusi Objek Sengketa di Malaka

BETUN, TIMORline.com-Pengadilan Negeri (PN) Kelas IB Atambua di Kabupaten Belu yang wilayah hukumnya meliputi Kabupaten Malaka  dan berada di bawah  wilayah hukum Pengadilan Tinggi (PT) Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga kuat salah melakukan  eksekusi objek sengketa di Desa Wehali Kecamatan Malaka Tengah pada Rabu (28/11/2018).

Sebab, objek sengketa yang dieksekusi hari itu adalah lahan milik Amanda Hoar sesuai sertifikat yang dikantonginya.  Dialah anak perempuan satu-satunya pasangan suami-istri Ferdinandus Seran-Florentina Abuk.

Florentina Abuk yang ditemui TIMORline.com di kediamannya di Dusun Bakateu Desa Wehali, Minggu (09/12/2018), menyesalkan pelaksanaan eksekusi yang dilakukan pihak PN Atambua pada Rabu lalu itu. Sebab, yang berperkara dengan Nikolas Taek adalah dirinya. Sehingga, objek sengketa yang seharusnya dieksekusi adalah lahan miliknya di Malae Raten, bukan lahan milik Amanda Hoar yang ada di Nularan.

“Yang berperkara dengan Nikolas Taek adalah saya, Florentina Abuk.   Dia (Nikolas Taek, red) sebagai penggugat dan saya sebagai tergugat. Sehingga, lahan yang seharusnya dieksekusi pengadilan adalah lahan milik saya, bukan lahan milik Amanda Hoar”, tandas Florentina disaksikan suaminya Ferdinandus Seran, Amanda Hoar dan suaminya, Moses Seran.

Florentina menegaskan, lahan miliknya terletak di Malae Raten. Sehingga, seharusnya lahan inilah yang harus dieksekusi.  Lahan ini letaknya bersebelahan dengan lahan milik Yasinta Seuk Manina di Malae Raten, satu dari dua bidang objek sengketa yang dieksekusi pengadilan.

Saat pembacaan penetapan MA sebelum eksekusi di lokasi Nularan Desa Wehali Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Malaka. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

“Tanah yang di Nularan itu sudah ada sertifikatnya atas nama anak perempuan saya Amanda Hoar. Sertifikat itu diterbitkan Kantor Pertanahan Nasional Kabupaten Belu pada 2007. Sementara  dia (Amanda Hoar, red) sendiri bukan pihak yang  berperkara dengan Nikolas Taek. Sehingga, eksekusi lahan di Nularan itu sebenarnya salah objek. Sebab,  yang berperkara dengan Nikolas adalah saya, bukan Amanda”, demikian Florentina.

Hal senada disampaikan Ferdinandus Seran, suami Florentina. “Kelapa yang ada di Nularan itu ditanam Andreas Nahak pada 1972. Andreas itu mama ini punya suami pertama. Setelah dia (Andreas, red) meninggal baru saya nikah lagi dengan mama”, jelas Ferdinandus sambil menunjuk Florentina di sampingnya.

Mendengar penjelasan orangtuanya tentang lahan miliknya yang dieksekusi pengadilan  dan menempatkannya sebagai milik Nikolas Taek terhitung 28 Nopember 2018, Amanda Hoar hanya diam.

Kepala Seksi Penanganan Masalah pada KPN Malaka Matheus Bria enggan memberi keterangan. Sebab, sertifikat yang terbit dan dimiliki warga Kabupaten Malaka sebelum Kabupaten Malaka berdiri sendiri sebagai daerah otonom, dikeluarkan KPN Belu.

“Kita satu kamar tapi beda kamar. Sama-sama nama kantor pertanahan tapi wilayahnya beda”, kata Matheus. (cyk/til).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *