2019, Dinas KPP Malaka Kembangkan Komoditi Itik dan Kambing.

BETUN, TIMORline.com-Pihak Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (KPP) Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berkomitmen untuk   mengembangkan komoditi itik dan kambing pada 2019 mendatang. Rinciannya, itik  10.000 ekor  dan kambing 2.500 ekor.

“Itik dan   kambing itu akan dibagikan kepada kelompok ternak yang ada di Kabupaten Malaka”, demikian Kepala Dinas KPP Kabupaten Malaka Yohanes Bernando Seran kepada wartawan di Betun, Kamis (06/12/2018)..

Bernando yang diakrabi Nando itu menjelaskan, untuk mendukung program-program unggulan Pemerintah Kabupaten Malaka di bawah kepemimpinan Bupati Stefanus Bria Seran,  instansi yang dipimpinnya  menangani tiga komoditi yakni itik, kambing dan tambak  ikan bandeng. Tetapi, untuk 2019, tambak ikan di-moratorium atau dihentikan sementara. Sebab,  daerah pesisir di Malaka  digunakan sebagai lahan tambak garam. Namun, berapa banyak anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan itik dan kambing tahun depan, Nando tidak menyebutkannya.

Dijelaskan, pada 2017, pihaknya melakukan pengadaan itik sebanyak 2.500 ekor tetapi pihak ketiga hanya menyiapkan 600 ekor. Sedangkan pengadaan kambing sebanyak 500 ekor tetapi pihak ketiga hanya menyiapkan 125 ekor.

Untuk itik, urainya, 600 ekor yang disiapkan pihak ketiga sudah dibagikan ke tiga kelompok ternak itik, yakni 250 ekor di Desa Wehali, 200 ekor di Desa Umakatahan dan 150 ekor di Desa Maktihan.

Sedangkan untuk kambing, pada tahun yang sama,  pengadaannya  sebanyak 500 ekor. Tetapi, pihak ketiga hanya mampu menyediakan 125 ekor.

“Jika pihak ketiga hanya bisa menyiapkan jumlah seperti itu, terus saya mau ambil dari mana. Tentu saja kita hanya lakukan pembayaran sesuai dengan jumlah yang ada”, tandas Nando.

Doktor hukum internasional itu mengatakan,  kambing   sudah dibagikan kepada  lima kalompok ternak yang ada di Kecamatan Malaka Timur dan Kecamatan Sasitamean.

“Ini tender pak. Kalau sudah tender kemudian pihak ketiga tidak mampu mengadakan sesuai kontrak apakah saya yang disalahkan? Ini bukan pengadaan langsung, tetapi melalui proses lelang. Kalau pengadaan langsung maka saya yang gagal”, katanya.

Mantan wartawan harian Berita Yudha Jakarta itu membantah adanya rumor yang berkembang dalam masyarakat terutama di kalangan masyarakat Kabupaten Malaka kalau dia sudah folan atau telan uang pengadaan komoditi itik dan kambing.

“Jika pihak ketiga tidak mampu adakan komoditi sesuai dengan kontrak maka kita hanya dan hanya akan  melakukan pembayaran sesuai dengan jumlah yang disiapkan.

Sedangkan uang sisa  pengadaan itu pihaknya kembalikan ke kas daerah kemudian diambil lagi dalam bentuk Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa)  untuk digunakan pada tahun anggaran berikutnya.

Hanya, berapa anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan itik dan kambing pada 2017, Nando tidak mengungkapnya. Berapa banyak anggaran yang digunakan dan berapa banyak anggaran yang dikembalikan ke kas daerah pun tidak disebutkannya. (cyk/til)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *