Pengerjaan Proyek Jalan di Nirangkliung-Sikka Dipertanyakan Warga

KUPANG, TIMORline.com-Proyek pengerjaan jalan kabupaten di Desa Nirangkliung Kecamatan Nita Kabupaten Sikka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dipertanyakan warga setempat. Sebab,  pengerjaan proyek jalan ini dihentikan tanpa alasan jelas. Sementara lahan dan tanaman warga  sudah ditebang dan digusur.

Setelah itu, kontraktor melakukan penggalian saluran. Tetapi, belakangan saluran ini dibiarkan, tidak dikerjakan. Karena itu, warga kuatir kalau rumah mereka runtuh saat musim hujan.

Sehingga, warga pun  resah dan mempertanyakan pengerjaan proyek jalan ini. Apakah pekerjaannya sudah selesai atau terkendala  material.

Sebastian, misalnya, menilai pengerjaan proyek jalan ini dilakukan setengah hati. Sebab, bila melihat kondisi di lapangan, pengerjaan jalan ini tidak masuk akal.

Sebastian mencatat, setidaknya ada empat hal yang menjadi alasan penilaiannya itu.

Pertama, setelah ada penggusuran tidak ada pengaspalan. Yang dikerjakan hanya saluran.

Kedua, lebar jalan yang digusur mencapai 7-8 meter. Ketiga, saluran di tengah kampung tidak dikerjakan. Keempat, saluran dan turap yang bukan di titik fokus proyek lebih diutamakan pengerjaannya.

Sebastian sendiri mengaku sudah pernah mendatangi pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Sikka untuk mempertanyakan pengerjaan pekerjaan ini. Tetapi, pihak dinas bilang pekerjaannya sudah selesai 100 persen.

Dinas yang biasa urus jalan ini juga beralasan, pengerjaan proyek jalan ini pada akhirnya tidak sesuai perencanaan karena pihaknya mendapat tekanan dari oknum-oknum tertentu.

Merespon  dalih dinas, warga setempat menantang pihak Dinas PU untuk turun ke lapangan guna membuktikan dalihnya.

Sebab,  pihak PT Feva Indonesia sebagai pelaksana kegiatan  justru meninggalkan sebagian pekerjaan yang dinilai warga sebagai tindakan penelantaran pembangunan.

Kalau pun pihak dinas mendapat tekanan dari pihak lain supaya proyek itu dikerjakan tidak sesuai perencanaan, perlu dibuktikan siapa orangnya. Sebab, Sebastian tidak menghendaki pihak dinas hanya bermain isu ke publik tetapi tidak bertanggungjawab terhadap dalih mereka dan pekerjaan yang terlantar.

Papan Data Proyek Riipua-Mego ke Nirangkliung-Nita yang melewati titik Lumadetung. (Foto: Istimewa).

Kondisi pekerjaan ini bisa dilihat di titik Lumadetung Desa Nirangkliung, tepatnya di depan rumah Arnoldus Woka, Marselina Sere dan Laurensius Nong.

Sebagai protes terhadap tindakan pembiaran pihak Dinas PU dan PT Feva Indonesia, warga Lumadetung melakukan penanaman pohon pisang dan bunga di sepanjang titik jalan yang sudah digusur.

Proyek pengerjaan jalan ini berawal dari Riipua Desa Riipua Kecamatan Mego dan berakhir di Nirangkliung Desa Nirangkliung Kecamatan Nita.

Sebelum PT Feva Indonesia melakukan kegiatannya, terlebih dahulu dilakukan ritual adat pada Sabtu 7 Juli 2018 menggunakan sapi dan ayam. Ritual itu dilakukan Kepala Desa Nirangkliung Silvester Yosef dan Kepala Desa Persiapan Jalo bersama para tokoh masyarakat dan tokoh adat masing-masing.

Selanjutnya, Minggu 8 Juli 2018 dilakukan penggusuran. Biayanya bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran (TA) 2018. Kontrak kerjanya dimulai 25 Mei 2018 tetapi sampai kapan pelaksanaan kegiatan tidak dimuat dalam Papan Data Proyek. Volume pekerjaan juga tidak disebutkan di sana. Sedangkan nilai kontraknya Rp2.394.825.000,00 atau Rp2,3 miliar. (*)

Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *