Di Malaka: ABK Dihamili, Keluarga Pelaku Tanggung Biaya Perawatan

OETFO, TIMORline.com-Adel (20), seorang Anak Berkebutuhan Khusus  (ABK) di Tua Oeranan Desa Bani-Bani Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dihamili Nus (17), laki-laki tetangganya.

Atas pertimbangan  orangtua pelaku maupun  korban masih bersaudara dan pelaku didalihkan masih di bawah umur atau anak-anak, persoalannya diselesaikan secara kekeluargaan. Atas mediasi pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Sasitamean, penyelesaian kekeluargaan itu diwujudkan dengan pembayaran uang pemeriksaan dokter senilai Rp2,5 juta dan sapi satu ekor. Realisasinya dilakukan pada Minggu (11/11/2018) sore.

Dari pihak keluarga korban hadir Adolf Edmundus Berek, Yakobus Molo Dini, dan lainnya. Sedangkan dari pihak pelaku hadir Wendelinus Taolin, Alfons Manek, Frans Manek, Markus Bria Bisik, dan lainnya. Dari Polsek Sasitamean hadir Kanit Reskrim Bripka Anjas Zacharias dan Joao da Costa.

Pertemuan ini merupakan tindaklanjut kesepakatan sebelumnya antara Markus Bria Bisik dan Alfons Manek di hadapan  pihak Polsek Sasitamean untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi secara kekeluargaan.

Dalam kesepakatan itu disebutkan, kasus yang terjadi diselesaikan secara kekeluargaan. Sebagai wujudnya, keluarga pelaku memberikan uang perawatan senilai Rp2,5 juta dan sapi satu ekor.

Biaya perawatan ini menuai perdebatan alot. Sebab, Adolf Edmundus Berek dari pihak ayah korban berpendapat, bila uang yang diberikan itu dimaksudkan sebagai denda adat maka nilainya tidak sepadan dengan penderitaan korban. Sebab, sejak lahir 23 Agustus 1998, korban termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). “Fisiknya memang normal tetapi daya tangkapnya rendah. Saat buang air besar dan air kecil pun tidak sadar. Duduk-duduk atau berdiri-berdiri begini sudah berak atau kencing. Keadaannya sudah begini malahan dihamili lagi. Bagaimana kita tidak kasian dia”, kata Adolf.

Dalih denda adat seperti disampaikan Adolf kemudian diluruskan Wende Taolin. Menurut Wende, uang Rp2,5 juta dan sapi satu ekor yang diberikan keluarga pelaku bukan denda tapi biaya pemeriksaan dokter.

Atas penjelasan Wende, Adolf dan keluarga lainnya sepakat. Tetapi, Adolf meminta keluarga pelaku bertanggungjawab juga terhadap korban saat melahirkan. Sebab, sebagai ABK, tentu korban sangat-sangat tidak siap saat melahirkan. Sehingga, tentu korban harus melahirkan melalui cara  operasi.

“Biaya operasinya sangat besar dan sudah pasti Rp10 juta. Jadi, saya minta Nus (pelaku, red) punya orangtua ikut bertanggungjawab saat anak perempuan melahirkan”, tandas Adolf.

Supaya tidak menimbulkan perdebatan panjang, baik Wende, Adolf dan keluarga pelaku maupun korban sepakat untuk ditambah uang perawatan saat korban melahirkan sebesar Rp10 juta.

Terhadap biaya sebesar itu, Blandina Funan yang adalah ibu kandung pelaku keberatan. Dia meminta keluarga besar kedua belah pihak untuk menanggung biaya perawatan melahirkan  secara bersama-sama. Sehingga, baik keluarga pelaku maupun korban masing-masing tanggung Rp5 juta. Tetapi, Adolf yang mantan Kades Kufeu itu keberatan.

Atas keberatan Adolf, Wende menyatakan setuju supaya biaya perawatan melahirkan sebesar Rp10 juta itu ditanggung keluarga pelaku.

Uang ini, menurut Wende, nantinya dia yang pegang. Bila orangtua korban butuh uang untuk pemeriksaan dokter atau korban melahirkan barulah uangnya  diambil. Tetapi, sekali lagi Adolf keberatan. Dia minta uang itu diserahkan kepada orangtua korban. Kapan diserahkan, sudah harus ditentukan waktunya.

Merespon penegasan Adolf, Wende yang saat ini tercatat sebagai salah satu anggota DPRD Malaka dari Partai Amanat Nasional (PAN) langsung menentukan waktu pemberian uang Rp10 juta itu pada 15 Januari 2019.

Lusianus Molo, salah satu ipar Siprianus Bouk yang adalah ayah korban, yang mengusulkan agar kesepakatan itu dituangkan di atas hitam putih atau tertulis, membuat Wende sedikit nada tinggi.

“Ini urusan adat. Masa urusan adat kita  pake tertulis segala. Kalau tidak mau, ya, kita bubar saja. Ini semua saya yang tanggung. Jadi, 15 Januari kita kasih uangnya. Tidak perlu buat surat tertulis segala”, tandas Wende.

Atas penjelasan Wende, Adolf setuju. Keluarga kedua belah pihak pun setuju.

Kejadian yang dialami Adel, anak pertama dari lima bersaudara  itu terungkap pada Rabu 31 Oktober 2018.  Ini bermula dari pemeriksaan dokter Merry Taolin yang dilakukannya terhadap Adel pada 25 Oktober 2018. Sesuai hasil diagnosa, Adel yang adalah korban, positif hamil dua bulan. Pada 30 Oktober, Adel bersama ibu kandungnya, Getrudis Mea, pulang kampung. Hasil diagnosa dokter itu kemudian disampaikan kepada keluarga ayah korban pada 31 Oktober di Fatuknutuk Desa Kufeu.

Pada hari itu pula Getrudis Mea yang adalah ibu kandung korban langsung membuat Laporan Polisi di Polsek Sasitamean.

Atas laporan Udis, begitu Getrudis biasa disapa, pada Sabtu 3 Nopember, Wende mencoba memediasi penyelesaian masalah tersebut di rumahnya di Tunuahu Desa Bani-Bani secara kekeluargaan dengan menghadirkan kedua belah pihak.  Hadir dalam upaya mediasi itu antara lain Wendelinus Taolin selaku tuan rumah  dan mediator, Getrudis Mea (ibu kandung korban), Rosalinda Seuk (ibu kandung Getrudis Mea/nenek korban),  Alfons Manek (paman sepupu pelaku dan  korban), Frans Manek (paman pelaku dan  korban), Kades Bani-Bani Yohanes Un,  Magdalena Muti, Yoseph Laak, Yovita Noni, Yuliana Lotu, Niko Asa (ayah kandung pelaku) dan Blandina Funan (ibu kandung pelaku).

Penyelesaian kekeluargaan ini berlanjut dengan penarikan Laporan Polisi di Polsek Sasitamean pada Rabu 7 Nopember. Saat itu, yang sudah berada di Polsek Sasitamean adalah Alfons Manek dan Markus Bria Bisik.

Sekira pukul 18.00 wita, Alfons Manek menggunakan telepon seluler milik salah seorang anggota Polsek Sasitamean menghubungi Udis untuk segera datang di Mapolsek tersebut. Bila tidak, Udis akan dijemput paksa anggota Polsek Sasitamean menggunakan oto keranjang. Atas desakan Alfons, Udis pun berangkat ke Mapolsek Sasitamean di Kaputu menggunakan jasa sepeda motor ojek.

“Saat tiba di Polsek, Alfons bilang, untung kamu datang cepat. Kalo tidak kamu dijemput pakai oto keranjang. Itu, baru kasih masuk oto keranjang”, ujar Udis menirukan kata-kata Alfons saat itu.

Malam itu juga Udis menandatangani sehelai surat yang isinya tidak diketahui pasti. Sebab, dia sendiri tidak membaca isi suratnya. Pun kepadanya polisi tidak membacakan isi surat tersebut. Kalau pun surat itu dimaksudkan menarik Laporan Polisi yang dibuat Udis pada 31 Oktober, dia tidak dimintai persetujuannya.

Udis menduga Alfons Manek  yang adalah saudara sepupunya dan Markus Bria Bisik yang adalah pamannya sangat berperan dalam penarikan Laporan Polisi yang dibuatnya. Sebab, Udis atas dukungan suaminya, Siprianus Bouk, yang saat ini bekerja di Kalimantan dan keluarga besarnya di Fatuknutuk Desa Kufeu, sangat merindukan kasus anaknya ini diproses secara hukum.

Udis juga mengaku adanya kekerasan psikis yang dilakukan Alfons Manek berupa kata-kata sejak kasus anaknya terungkap, saat proses mediasi maupun saat penarikan Laporan Polisi.

“Anak saya  yang menderita sejak lahir bukan dibantu tetapi justru dibuat susah lagi dengan cara dihamili. Sudah begitu, saya sebagai mama kandung malahan tidak nyaman. Saya tersiksa secara psikis karena kata-kata, sikap dan perlakuan mereka”, demikian Udis sambil menyebut nama Alfons Manek. (*).

Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *