Wagub NTT: Rakyat Melarat Negara Kanga-ranga

ATAMBUA, TIMORline.com-Wakil Gubernur (Wagub) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Josef Nae Soi, Selasa (16/10/2018), melakukan Ground Breaking (Peletakkan Batu Pertama) Pembangunan Jembatan Gantung Kian Rai Ikun Desa Tia Lai Kecamatan Tasifeto Barat Kabupaten Belu.

Wagub Josef mengatakan, pembangunan Jembatan Gantung Kian Rai Ikun merupakan bukti nyata pemerintah untuk membangun dari pinggir.
“Desa Tia Lai berada di pinggiran Indonesia. Sehingga, kehadiran jembatan gantung di desa ini bisa memberi akses bagi warga ke mana-mana”, katanya.

Mantan anggota Komisi V DPR RI ini menilai, selama ini masyarakat Tia Lai hidup dalam penderitaan tetapi kuat dalam penderitaan itu.

“Ini tanda masyarakat masih melarat. Nah, dalam urusan pembangunan, tidak ada urusan partai politik tetapi perlu keserasian hati untuk membangun. Sebab, bila rakyat melarat negara kanga-ranga”, tandas Wagub Josef.

Nikolas Botha selaku ketua panitia Ground Breaking pembangunan Jembatan Gantung Kian Rai Ikun menjelaskan, pembangunan jembatan tersebut terhitung 29 September sampai dengan 29 Desember 2018.

“Tetapi, kita upayakan untuk selesai sebelum hari raya natal”, katanya.
Bupati Belu Willybrodus Lay mengatakan, hari peletakan batu pertama ini adalah hari yang diciptakan Tuhan bagi masyarakat Desa Tia Lai. Sebab, kehadiran jembatan ini memberi akses mudah bagi warga Desa Tia Lai bepergian ke mana-mana.

Menurut Bupati Willy, jembatan ini awalnya bukan di Tia Lai tapi di tempat lain. Dalam suatu kesempatan pertemuan dengan Ketua Komisi V DPR RI Farry Djemy Francis, Bupati Willy bertanya kenapa jembatan ini di sini. Padahal, di tempat lain lebih membutuhkan.

Atas pertanyaan itu, Farry balik bertanya, lalu harus di mana. Bupati Willy kemudian bilang, sebaiknya di Desa Tia Lai. “Ahh, ini hal kecil, kenapa tidak ngomong. Maka jadinya di Desa Tia Lai”, kata Bupati Willy mengenang pertemuannya dengan Farry disambut tepuk tangan dan tawa hadirin.

Baginya, pembangunan Jembatan Gantung Kian Rai Ikun merupakan bukti nyata membangun Indonesia dari pinggiran. “Kalau belum membangun pinggiran belum sampai di Kupang”, demikian Bupati Willy.

Sebagai ungkapan kegembiraan atas pembangunan jembatan gantung tersebut, Wabup Belu J.T. Ose Luan bersama warga tebe bersama.

Dari jalan umum, tepatnya dari Gereja Katolik Nela KM 9 lintasan Atambua-Kupang, jembatan ini jauhnya 500 meter. Sekira 250 meter di antaranya jalan lapen. Sedangkan 250 meter sisanya masih berbatu. (cyk/til).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *