Jembatan Gantung Kian Rai Ikun Diharapkan Selesai sebelum Natal

ATAMBUA, TIMORline.com-Jembatan Gantung Kian Rai Ikun Desa Tia Lai Kecamatan Tasifeto Barat Kabupaten Belu Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diharapkan selesai sebelum Hari Raya Natal 25 Desember 2018.

Harapan itu disampaikan Ketua Komisi V DPR RI Farry Djemy Francis, Wakil Gubernur NTT Yosef Nae Soi dan Bupati Belu Willybrodus Lay saat Ground Breaking (Peletakan Batu Pertama) Pembangunan Jembatan Gantung Kian Rai Ikun di Sungai Kian Rai Ikun, Selasa (16/10/2018).

Ketua Komisi V DPR RI Farry Djemy Francis mengingatkan pihak kontraktor agar jembatan gantung tersebut sudah bisa dipakai sebelum Perayaan Natal 2018. Tetapi, pembangunan jembatan tersebut selesai kalau ada dukungan doa dari semua pihak.
“Pembangunan jembatan ini membutuhkan dukungan doa dari pemerintah pusat, propinsi, kabupaten, kecamatan, desa dan masyarakat setempat”, kata Farry.

Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi mengatakan, pembangunan Jembatan Gantung Kian Rai Ikun jangan dilihat dari peletakan batu pertamanya. Tetapi, bagaimana proses untuk mendapatkannya, tidak mudah. Sebab, untuk mendapatkannya harus ada usulan dari anggota DPR yang membidangi jembatan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR). Usulan itu kemudian dibahas kementerian bersama-sama dengan komisi.

“Usulan itu sah apabila sudah ditandatangani Ketua Komisi V yang saat ini diketuai Pak Farry”, kata Wagub Josef sambil meminta para pejabat dan warga yang hadir tepuk tangan bagi Farry.

Bupati Belu Willybrodus Lay mengapresiasi jpembangunan embatan gantung ini. Sebab, kehadiran jembatan ini memudahkan akses masyarakat Desa Tia Lai ke gereja, pasar dan kota saat terjadi banjir.

“Selama ini, masyarakat Desa Tia Lai tidak bisa ke gereja saat banjir termasuk pada saat hari natal. Sehingga, saya tentu sangat setuju kalau pembangunan jembatan ini selesai sebelum hari raya natal”, demikian Bupati Willybrodus.

Peletakan batu pertama pembangunan Jembatan Gantung Kian Rai Ikun ini ditandai dengan penekanan bunyi sirene menyusul upacara adat yang dilakukan beberapa tua adat Desa Tia Lai. Ini ditandai dengan penyembelihan seekor babi. Darah babi diriciki pada tempat tiang jembatan dan mesin giling batu yang ada menggunakan daun sirih. Daun sirih ini kemudian dikubur pada salah satu tempat tiang jembatan yang sudah disiapkan. Sedangkan sirih pinang selebihnya dibagi-bagi kepada para pejabat, tua adat dan warga yang hadir. (cyk/til)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *