Poktan Maspete-Malaka Miliki 59.000 Pohon Marungga

TIGA tahun lalu, tepatnya 2015. Diam-diam warga Dusun Oefeu Desa Kufeu Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tanam marungga. Warga Dusun Oefeu mengenalnya dengan nama daun kelor.

Hingga tahun ketiga 2018 ini, marungga yang berhasil ditanam warga setempat sebanyak 59.000 pohon. Mereka adalah petani-petani tulen yang jauh sebelumnya hanya bisa menanam marungga sebagai pengganti sayur-mayur. Mereka tidak tahu kalau marungga itu bernilai gizi tinggi. Pun dapat diproduksi untuk berbagai kebutuhan lainnya.

Kini, para petani marungga itu bergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Maspete.

Melalui Poktan ini, lahan penanaman marungga diperluas. Dengan modal 31 anggota, anggota Poktan Maspete merambat ke desa tetangga, Desa Ikan Tuanbeis mulai 2018. Yang mencengangkan, para petani tidak dipaksakan atau diwajibkan menjadi  anggota Poktan Maspete.

Ketua Poktan Maspete Natalia Bano mengatakan, pada penanaman awal Desember 2015,  mereka sangat kesulitan bibit marungga. Hasil panen perdana pada April 2016 itulah yang  dijadikan bibit. Penanaman berlanjut. Anggota Poktan pun semakin bersemangat.

Kini, Natalia sebagai ketua Poktan memiliki 8.000 pohon marungga. Sedangkan mantan Kepala Desa (Kades) Kufeu Adolf Edmundus Berek punya 3.000 pohon. Anggota Poktan lainnya pun ribuan pohon. Sehingga, dari 31 anggota Poktan yang ada, sedikitnya 59.000 pohon marungga yang menjadi milik Poktan Maspete. Ini belum ditambah anggota baru dan  tanaman marungga milik masing-masing asal Desa Ikan Tuanbeis.

Natalia menjelaskan, tanaman marungga dengan  ketinggian 50 sentimeter sudah bisa dipanen.  Daun basah seharga Rp3.000, sedangkan daun kering seharga Rp35.000.- Sehingga, dalam sebulan seoramg petani marungga bisa memperoleh Rp2-3 juta.

“Dari daun kering bisa dibuat minuman.  Dari tepungnya bisa dibuat minuman dan sabun. Ini baru daun. Belum biji yang bisa menghasilkan berbagai produk seperti sabun, minyak, hand body, shampo, dan lainnya”, kata Natalia.

Selama ini, marungga yang dipanen anggota Poktan  Maspete berupa daun  baik daun basah maupun kering dibeli pihak Java Choise Oil (JCO), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) berjaringan internasional. Tetapi, daun itu tidak dibawa ke luar. Daun yang dibeli JCO itu  dikembalikan kepada anggota untuk mengolahnya. Hasil  olahan berupa minuman, sabun, minyak, hand body dan shampo itu kemudian dimanfaatkan kembali  oleh anggota lagi. Sebab, anggota  sudah dididik dan dilatih  JCO bersama mitra asal Amerika dan Eropa.

“Prinsipnya anggota  menyiapkan lahan, kemudian tanam, panen dan jual sendiri. Uang hasil jualan  juga dipakai untuk diri sendiri”, kata Adolf Edmundus Berek, salah satu anggota Poktan Maspete.

Untuk mendukung aktivitas Poktan Maspete, JCO memfasilitasinya berupa alat mol (giling), fakum (pemisah daun dan sekam), timbang dan silet (penyaring). Semua fasilitasnya bisa dilihat di ruang pengering marungga yang selama ini lebih dikenal dengan  pabrik marungga. Pabrik ini dilengkapi rak pengering.

“Pembangunan pabrik dan rak pengering ini dibiayai Pemerintah Desa Kufeu menggunakan  Dana Desa”, kata mantan Kades Kufeu Adolf Edmundus Berek, diamini Natalia, Ketua Poktan Maspete.

Pabrik marunggu milik Poktan Maspete di Nunuti Dusun Oefeu Desa Kufeu Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka Propinsi NTT. Tampak Ketua Poktan Maspete Natalia Bano. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Sesuai pantauan TIMORline.com, pabrik marungga ini terletak tepat di Nunuti Dusun Oefeu.  Jalan berukuran lebar dua meter dari pemukiman penduduk terbentang panjang menuju kebun petani sekira 1,5 kilometer. Pada jarak sekira 800 meter terdapat pabrik marungga milik Poktan Maspete. Selebihnya jalan menuju kebun petani sekira 700 meter.

Secara fisik, pabrik ini  terbuat dari bahan campuran: lokal dan pabrik, menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui dana desa sebesar Rp117.317.000.-

Lantainya berupa semen kasar. Dinding terbuat dari bambu belahan dilapisi tanah liat. Beberapa rumah warga termasuk rumah  penjaga dibangun mengelilingi pabrik ini. Di halaman depan terdapat alat perontok. Tak jauh dari sini, terdapat kebun anggota yang dipenuhi tanaman marunggu.

Biasanya penanaman dilakukan  pada Desember. Jarak tanam dari pohon ke pohon 50-100 sentimeter. Sedangkan jarak dari baris ke baris dua meter.

Saat tanaman  berusia lima bulan atau tepatnya April, dilakukan panen. Setidaknya, saat itu tinggi  tanaman sudah mencapai 50 sentimeter. Kegiatan panen ini biasanya berlangsung antara pukul 06.00-09.00 wita. Selanjutnya rontok.

Penjabat Kades Kufeu Laurensius Seran berharap para petani dari waktu ke waktu mulai menyadari manfaat marungga. Sehingga, tanaman marungga tidak menjadi bahan olok-olokan petani atau warga lainnya.

Dia berharap marungga tidak  dilihat sebagai  proyek di desanya. Sebab, pengembangan marungga tidak butuh lokasi khusus tetapi ditanam di kebun petani itu sendiri. Hasilnya pun untuk dan dinikmati petani itu sendiri.

“Kita makan marungga tapi bisa menghasilkan sabun, hand body, minyak dan sabun”, kata Laurensius.

Aktivis JCO Nina Purwiyantini yang selama ini setia mendampingi para petani marungga Poktan Maspete sangat antusias atas pengembangan marungga di Desa Kufeu. Dia malahan sudah mendampingi para petani sejak tiga tahun lalu. Dia memulainya dengan melakukan sosialisasi dan berlanjut dengan pelatihan demi pelatihan hingga saat ini. Saking dekatnya dengan petani marungga, Nina diakrabi dengan Nokef alias Nona Kufeu.

Dia berharap kerja keras petani marungga Poktan Maspete sekali waktu menjadi pilot projek marungga di NTT.

Alfons Nahak, salah satu anggota Poktan Maspete, bilang, saat ini Poktan Maspete sudah tidak sendiri lagi. Sebab, marungga sudah merupakan program unggulan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.

“Kita punya marungga sudah 59.000 pohon. Ini baru satu Poktan. Apalagi di seluruh NTT. Nah, kita pasti bosnya”, kata Alfons sambil tertawa lebar. (*)

Editor: Cyriakus Kiik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *