Marungga Kufeu-Malaka Berkualitas Terbaik Dunia Nomor 2

BETUN, TIMORline.com-Marungga milik Kelompok Tani (Poktan) Maspete Desa Kufeu Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diakui sangat berkualitas dengan kualitas terbaik dunia nomor dua. Sedangkan di dalam negeri, marungga asal daerah terpencil dan terpinggir ini berkualitas terbaik nomor satu.

Hal ini diungkapkan Camat Io Kufeu Laurensius Seran,  mantan Kepala Desa (Kades) Kufeu Adolf Edmundus Berek dan Ketua Poktan Maspete Natalia Bano, Selasa (09/10/2018).

Mantan Kades Kufeu Adolf Edmundus Berek menjelaskan, kualitas  marungga milik Poktan Maspete lebih baik dari marungga dari daerah lain. Sebab, sesuai penelitian para ahli asal Amerika dan Eropa, ternyata kualitas marungga asal Kufeu terbaik dunia nomor dua setelah Vietnam. Sedangkan di Indonesia, kualitas marungga asal Kufeu terbaik nomor satu.

“Saat ini ada 59.000 pohon marungga yang dimiliki petani marungga Desa Kufeu. Tahun ini dikembangkan di desa tetangga Ikan Tuanbeis. Mereka mulai tanam marungga. Kita belum tahu berapa banyak tanaman marungga di sana”, katanya.

Sebagai pengembangan areal marungga, Camat Io Kufeu Laurensius Seran telah melihat sendiri kebun marungga masing-masing petani di Desa Ikan Tuanbeis.

Camat Io Kufeu Laurensius Seran. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

“Ini dukungan nyata masyarakat terhadap program unggulan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. Sehingga, kita berharap bila Gubernur Viktor berkunjung ke Malaka bisa mampir di Desa Kufeu untuk melihat langsung penanaman marungga di kebun masyarakat”, tandas Camat Laurensius.

Menurut Camat Laurensius, marungga Kufeu berkualitas internasional. Sehingga, tanaman marungga harus menjadi tanaman wajib petani di wilayahnya. Dengan demikia, para petani di wilayahnya diminta untuk tanam, tanam dan tanam marungga.

Ketua Poktan Maspete Natalia Bano bilang, yang menjadi kendala dalam setiap usaha selama ini adalah hal pemasaran. Tetapi, sekarang tidak menjadi masalah lagi. Sebab, hasil panen dan produk-produk marungga lainnya dibeli langsung Java Choise Oil (JCO). Tetapi, uangnya tidak dibawa pergi. Uangnya kembali kepada masyarakat.

“Hasil panen daun basah Rp3.000 per kilo, sedangkan daun kering Rp35.000 per kilo. Jadi, dalam satu bulan seorang petani marungga bisa mendapat penghasilan Rp2-3 juta”, kata Natalia.

Menurut dia, bila kemudian ketahuan  marungga asal Kufeu berkualitas dunia, harga bisa berubah. Sehingga, pandangan masyarakat terhadap marungga juga berubah.

“Pandangan masyarakat harus berubah sehingga muncul kesadaran baru pula untuk menanam dan mengembangkan marungga. Sebab, ternyata marungga tidak hanya untuk dikonsumsi sebagai sayur-mayur tetapi bisa menghasilkan produk-produk lain seperti minyak, sabun, shampo dan hand body”, demikian Natalia. (cyk/til).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *