PT Benenai Permai Malaka dan Karyawannya Diduga Bersengketa

BETUN, TIMORline.com-PT Benenai Permai yang selama ini mengelola Stasiun Pengisian Bahan Umum (SPBU) Laran di Desa Wehali Kecamatan Malaka Tengah dan SPBU  Webriamata di Desa Weoe Kecamatan Wewiku Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga kuat sedang bersengketa dengan karyawannya.

Sebab, selama ini karyawan yang dipekerjakan manajer perusahaan tidak menggunakan Surat Perjanjian Kerja. Sehingga, karyawan  bisa dipecat kapan saja dengan alasan yang tidak jelas.

Hal ini terungkap dalam surat pengaduan dan permohonan Stefanus Selan ke Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Malaka tertanggal 24 September 2018.

Dalam surat itu, Kepala Dinas (Kadis) Nakertrans diminta untuk menyelesaikan sengketa ketenagakerjaan yang timbul antara dirinya dengan manajer PT Benenai Permai Benny Chandradinata.

Pengaduan dan permohonan Stefanus itu bermula dari kecelakaan lalulintas (lama lantas) yang dialaminya pada 13 Juni 2018 di Lakafehan Kecamatan Kakuluk Mesak Kabupaten Belu, salah satu wilayah di Propinsi NTT yang berbatasan langsung dengan Timor Leste. Dalam peristiwa itu, satu orang menderita cacat dan dua orang mengalami luka-luka ringan. Persoalan ini kemudian diselesaikan secara kekeluargaan. Sehingga, pihak Polres Belu membolehkan Stefanus pulang ke rumah. Atas alasan laka lantas, manajer PT Benenai Permai Benny Chandradinata memberi waktu istirahat kerja satu minggu kepada Stefanus.

Stefanus kemudian dipanggil masuk kerja kembali. Tetapi, Stefanus yang sudah 10 tahun bekerja sebagai pengemudi mobil tanki Pertamina Laran dan Webriamata dialih-kerjakan ke toko, tepatnya di UD Ramayana Betun. Sehingga, selama dua minggu kerjanya membersihkan kaca toko, pintu toko, pasang sepeda, pasang lemari, dan lainnya.

Dalam surat yang sama, Stefanus menilai penempatan kerja seperti itu tidak sesuai prosedur. Karena itu, Stefanus kemudian protes kepada manajer PT Benenai Permai Benny Chandradinata. Alasannya, dia bukan pekerja toko tapi pengemudi mobil tanki. Atas protes itu, Benny menyuruh Stefanus untuk perbaiki mobil tanki lama. Tetapi, upaya perbaikan itu sia-sia sehingga mobil tanki  itu  tidak bisa digunakan.

Persoalan tidak selesai. Pada  29 Agustus 2018 sekira pukul 13.00 wita, Benny menelepon Stefanus dengan nada  yang dinilainya tidak bersahabat.

“Lu mau mati na mati. Lu tidak bawa oto Pertamina lagi”, begitu Stefanus mengutip kata-kata Benny dalam suratnya.  Mendapat kata-kata itu, Stefanus mengaku diam saja dengan maksud menghindari adu mulut.

Benny kemudian berpesan kepada Stefanus untuk mengambil Surat Izin Mengemudi (SIM) miliknya dan uang Rp1,5 juta di Toko UD Ramayana. Hari itu juga Stefanus langsung ke Toko UD Ramayana untuk ambil SIM-nya. Sedangkan uang Rp1,5 juta  dikembalikan.

Dengan mengembalikan SIM dan mau memberi uang Rp1,5 juta, Stefanus menduga Benny memberhentikannya sebagai karyawan. Sebab, cara-cara tidak prosedural seperti itulah yang diduga biasa digunakan Benny untuk memberhentikan karyawan.

Stefanus sendiri mempertanyakan niat baik Benny menyelesaikan sengketa ketenagakerjaan yang terjadi secara bijak. Sebab, bila Benny berniat baik, Stefanus tidak diberhentikan melalui pembicaraan lisan telepon tetapi melalui surat  tertulis.

Cara Benny  memberhentikan  dirinya diakui sangat mengecewakan. Sehingga, sengketa yang timbul kemudian diadukan Stefanus ke Disnakertrans Kabupaten Malaka.

Atas pengaduan itu, pada Rabu (03/10/2018), pihak Disnakertrans telah memediasi pihak Stefanus Selan dan PT Benenai Permai. Stefanus hadir sendiri, sedangkan PT Benenai Permai diwakili salah satu karyawan. Selaku mediator adalah Sekretaris Disnakertrans Gabriel  Meni Tae dan Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi Hyasinthus Boy. (cyk/til).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *