Pemerintah Pusat Diminta Perhatikan Objek Wisata di Malaka

BETUN, TIMORline.com-Pemerintah pusat diminta memperhatikan objek wisata yang ada di Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Terutama dukungan anggaran  untuk pengelolaan, pengembangan dan promosi wisata.

Hal ini disampaikan Asisten III pada Sekretariat Kabupaten (Setkab) Malaka Yoseph Parera saat acara puncak  tradisi adat Batar Manaik Malaka di Istana Kerajaan Liurai Malaka Desa Builaran Kecamatan Sasitamean, Jumat (28/09/2018).

Yoseph menyampaikan hal itu kepada Kepala Sub Bidang Pemasaran dan Promosi pada Deputi Kementerian Pariwisata RI Herbin Saragih bersama pejabat kementerian lainnya saat menghadiri acara puncak tradisi adat Batar Manaik Malaka tersebut.

Menurut dia, pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten itu satu. Sehingga, perlu alokasi anggaran untuk pengelolaan, pengembangan dan promosi objek wisata di Kabupaten Malaka.

Beberapa objek wisata disebutkannya. Antara lain objek wisata budaya Batar Manaik tiap tahun, objek wisata religi Perarakan Besar Patung Bunda Maria tiap dua tahunan dan dua objek wisata bahari, yakni Pantai Lo’odik dan Motadikin.

Perarakan Besar Patung Bunda Maria di Malaka dijadikan salah satu objekwisata religi. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Objek wisata religi Perarakan Besar Patung Bunda Maria, misalnya, dilakukan mengelilingi 17 paroki atau gereja besar di seluruh wilayah pastoral Dekenat Malaka. Saat itu, kata Yoseph, Bunda Maria yang diyakini umat katolik sebagai Bunda Yesus mengunjungi umat katolik. Sebaliknya, umat katolik yang menghadirinya juga ribuan.

Perarakan Patung Bunda Maria, jelas mantan Kadis Sosial Kabupaten Malaka ini, diadakan setiap dua tahun pada tahun genap. Sehingga, patung tersebut saat ini sedang diarak keliling 17 gereja besar di Malaka dengan  puncaknya pada 31 Oktober.

Ada pula dua objek wisata bahari yang sangat menjanjikan dan dibenahi dari waktu ke waktu, yakni Pantai Lo’odik dan Motadikin. Kedua pantai ini diakui sebagai destinasi utama di Kabupaten Malaka.

“Panjang pantai Malaka sekira 84 kilometer, hanya dibatasi muara, bukan pulau, gunung atau bukit”, tandas Yoseph.

Meskipun baru empat tahun, Yoseph berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata RI tidak bosan-bosan melirik Kabupaten Malaka.

Kepala Sub Bidang Pemasaran dan Promosi pada Deputi Kementerian Pariwisata RI Herbin Saragih menegaskan, tradisi adat Batar Manaik Malaka sudah mendunia. Sehingga, Batar Manaik sebagai warisan budaya turun-temurun ratusan tahun harus dilestarikan.

Menurut Herbin, banyak tamu bisa datang dan menghadiri setiap even budaya tetapi harus ada kegiatan-kegiatan unik untuk memberikan transaksi ekonomi.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka Rofinus Bau mengatakan, sebagai kabupaten baru, semua objek wisata di Kabupaten Malaka dibenahi dari waktu ke waktu disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

“Banyak objek wisata yang kita miliki baik budaya, alam, bahari maupun religi”, demikian Rofinus. (cyk/til).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *