Inilah Tradisi Adat Batar Manaik Malaka di NTT

TRADISI  adat Batar Manaik Malaka di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)  sudah dikenal lama. Terutama di lingkungan Kerajaan Liurai Malaka. Inilah tradisi adat pemberian upeti dari rakyat Malaka   kepada Raja Liurai Malaka. Pemberian itu biasanya dilakukan pada setiap bulan Agustus dalam tahun berjalan.

Saat itu, rakyat Malaka  melalui para kepala suku dari berbagai tempat di wilayah Kabupaten Malaka  berkumpul di rumah adat masing-masing yang terletak di sekeliling Istana Kerajaan. Untuk memasukkan upeti berupa jagung itu, masing-masing orang membawa delapan bulir jagung ke Istana  Raja. Kenapa hanya delapan bulir, belum terkonfirmasi resmi.

Tradisi ini dimulai sejak Raja Liurai Malaka III dan berlangsung hingga saat ini.

Pada 2018, di tangan Raja Liurai Malaka XV, Dominikus Kloit Teiseran, tradisi ini dibuka kepada umum dengan nama Batar Manaik Malaka selama satu pekan lebih,  terhitung 19-28 September. Selama itu,  masyarakat adat Liurai Malaka berkumpul di Tafatik Liurai Malaka di Builaran Desa Builaran Kecamatan Sasitamean. Berbagai atraksi budaya seperti Tarian Tebe Bot, Tarian Lalok Dato, Tarian Likurai dan Hananu Hare dipersiapkan untuk memeriahkan puncak acara.

Suku-suku yang hadir adalah Tafatik Katuas Uma Bot Liurai. Tafatik ini merupakan rumah adat induk. Di bawahnya ada beberapa  rumah adat atau suku  penyangga. Antara lain Tafatik Niba-Niba, Tafatik Balibo, Tafatik Leon dan Tafatik Fehan.

Di bawah Tafatik Katuas Uma Bot, ada Suku Ni Ha’a, Suku Tahakae, Suku Kailaku, Suku Leki Metan, Suku Bere Seran, Suku Taroi dan Suku Uma Bot. Para kepala suku masing-masing juga hadir.

Yang mencengangkan, Batar Manaik kali ini mendapat dukungan penuh pihak Kementerian Pariwisata RI.  Ini terbukti dengan hadirnya Kepala Sub Bidang Pemasaran dan Promosi pada Deputi Kementerian Pariwisata RI Herbin Saragih saat acara puncak Batar Manaik Malaka, Jumat (28/09/2018).

Acara puncak ini diawali dengan pemberian upeti berupa jagung atau Batar Manaik. Jagung dibawa masing-masing suku. Mulai dari suku-suku besar, menyusul suku-suku penyangga. Di barisan terdepan para pembawa jagung, ada kelompok tarian likurai yang terdiri dari ibu-ibu dan perempuan muda bersama dua atau tiga peronggeng pria.

Para penari likurai saat mengantar tamu ke halaman Istana Kerajaan Liurai Malaka di Builaran saat acara Batar Manaik Malaka, Jumat (28/09/2018). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Sambil para penari meliuk-liukkan tubuh memasuki halaman istana, para pembawa jagung meneriakkan palate. Teriakan ini mengingatkan masyarakat adat Malaka akan ungkapan kegembiraan pasukan yang menang perang saat memasuki kampung atau istana kerajaan sepulang dari medan perang, pada zaman dahulu.

Setiba di pintu gerbang, para pembawa jagung dan penari likurai dijemput penari likurai lainnya.  Para pembawa jagung dan penari likurai yang datang diantar ke depan Rumah Adat (Tafatik) Katuas Uma Bot Liurai.

Setiba di depan Tafatik Katuas Uma Bot Liurai,  jagung yang dibawa tidak langsung diletakkan di ganjang atau tikar yang sudah disediakan. Mereka masih menunggu suku-suku lain yang datang belakangan membawa jagung. Setelah suku-suku itu lengkap atau dipastikan sudah tidak ada suku yang datang bawa jagung lagi (sebab bisa saja ada suku yang tidak datang, red), mulai dilakukan penghitungan jagung. Sebelum dihitung, jagung diletakkan di atas ganjang dan tikar yang sudah disediakan.

Upacara penghitungan jagung ini didahului dengan peletakkan sirih pinang oleh Laurens Teiseran dari Tafatik Uma Bot. Melalui sirih pinang itu, Katuas Uma Bot Laurens berkomunikasi dengan para leluhur melalui tutur adat setempat untuk memberikan kesehatan yang baik dan hasil kebun yang berlimpah bagi mereka yang membawa upeti jagung.

Setelah dilakukan penghitungan jagung, Kepala Suku Ni Ha’a Bere Seran Balibo Petrus Metak Kone mengumumkan kepada warga yang hadir bahwa sesuai hasil penghitungan, jagung yang dipersembahkan kepada Raja Malaka tahun ini sebanyak lima kayu.

“Meskipun tahun ini iklim kurang bagus tetapi hasilnya cukup menggembirakan. Jagung yang ada sebanyak lima kayu”, kata Petrus  disambut tepuk tangan warga yang hadir.

Herbin Saragih saat memberi sambutan. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Di hadapan Raja Liurai XV, Dominikus Kloit Teiseran, Kepala Sub Bidang Pemasaran dan Promosi pada Deputi Kementerian Pariwisata RI Herbin Saragih berharap tradisi adat Batar Manaik Malaka dipromosikan dan dilestarikan sebagai salah satu ikon pariwisata Kabupaten Malaka.

“Promosinya jangan hanya di Kabupaten Malaka tetapi juga di Kabupaten  Belu, Kupang dan Timor Leste”, kata Herbin.

Menurut Herbin, sebagai ikon Kabupaten Malaka, tradisi Batar Manaik Malaka yang sudah berlangsung turun-temurun ratusan tahun harus disertai dengan kegiatan-kegiatan unik untuk menarik transaksi ekonomi pihak lain.

Asisten III pada Sekretariat Kabupaten (Setkab) Malaka Yoseph Parera memaknai tradisi adat Batar Manaik Malaka sebagai harga diri dan martabat manusia Malaka yang mengandung banyak nilai budaya. Sehingga, nilai-nilai budaya itu harus dihidupkan kembali.

Menurut mantan Kepala Dinas Sosial  Kabupaten Malaka ini, pemerintah  pusat, propinsi dan  kabupaten itu satu. Sehingga, Yoseph mengharapkan, bila pemerintah pusat punya dana untuk pengelolaan, pengembangan dan promosi wisata budaya, jangan lupa dijatahkan kepada Kabupaten Malaka.

“Pemerintah pusat khususnya Kementerian Pariwisata jangan lupa alokasikan anggaran untuk Kabupaten Malaka”, kata Yoseph.

Raja Liurai Malaka XV Dominikus Kloit Teiseran didampingi para pengawal saat menyampaikan pengantar adat. (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Raja Liurai Malaka XV, Dominikus Kloit Teiseran, dalam pengantar adatnya mengisahkan tentang Kerajaan Liurai Malaka dan raja-raja yang menjabat sebelumnya.

Pada masa kepemimpinan Raja Liurai Malaka III-lah dikenal adanya Batar Manaik. Ini dimaksudkan sebagai persembahan dari rakyat yang diambil dari hasil kebunnya kepada raja.

“Jagung yang dibawa hanya delapan bulir. Jagung ini tidak dimakan raja tetapi dijadikan bibit. Pada musim tanam, jagung bibit ini diberikan kepada rakyat. Saat panen, delapan bulir dari hasil kebun milik rakyat itu dimasukkan kembali ke istana melalui upacara Batar Manaik”, demikian  Raja Dominikus.

Saat memberikan kata pengantar adatnya, Raja Dominikus didampingi empat pengawalnya. Dua orang di sebelah kiri berasal dari Suku Leon dan Manleten. Sedangkan dua pengawal yang di sebelah kanan berasal dari Suku Leki Metan dan Bere Seran.

Sebelum raja bicara, keempat pengawal itu siaga di samping Tafatik Katuas Uma Bot Liurai.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka Rofinus Bau mempunyai kesan bahwa acara itu tidak disiapkan secara baik. Sebab, suku-suku yang membawa jagung ke istana itu harus membawa penari likurainya sendiri, bukan saat memasuki istana baru tarik penari sembarang seperti yang sudah terjadi.

Selain itu, pembawa acara atau harus  ada orang yang sudah ditentukan untuk mengomentari semua tahapan prosesi adat yang terjadi. Sehingga, orang lain atau anak-cucu yang hadir juga tahu proses-proses yang terjadi.

Kepala Desa Builaran Alfons Luan mengatakan, pada zaman dahulu, Batar Manaik dipahami sebagai upeti rakyat kepada raja. Sehingga, jagung itu sering dikenal publik di lingkungan kerajaan sebagai makanan ayam.

“Makanan ayam itu istilah kiasan. Sebab, jagung upeti itu tidak dijadikan  makanan ayam tetapi bibit yang pada musim tanam diberikan kepada rakyat yang tidak memiliki bibit untuk ditanam di kebunnya”, jelas Alfons.

Kepala Suku Ni Ha’a Bere Seran Balibo Petrus Metak Kone berterimakasih ulang-ulang kepada pihak Kementerian Pariwisata RI yang telah mendukung acara tradisi adat Batar Manaik kali ini.

“Kami harap dukungan ini tidak berakhir tahun ini tetapi tetap berlanjut tahun depan”, kata mantan Kepala Desa Builaran itu.

Patris Seran, warga setempat, berharap dukungan Kementerian Pariwisata RI berlanjut tahun depan. Bagi suku-suku yang ada di bawah Kerajaan Liurai Malaka supaya mempersiapkan acara yang sama sebaik mungkin. Sehingga, tidak terkesan terburu-buru dan asal jadi. (*)

Penulis/Editor: Cyriakus Kiik

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *