Tradisi Adat Batar Manaik Malaka di Istana Kerajaan Liurai

BETUN, TIMORline.com-Tradisi adat Batar Manaik Malaka digelar di Istana Kerajaan Liurai Builaran Desa Builaran Kecamatan Sasitamean Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan budaya ini berlangsung selama tiga hari terhitung 26-28 September 2018.

Kepala Suku Katuas Uma Bot Liurai Dominikus Mali kepada TIMORline.com, Rabu (26/09), menjelaskan, tradisi adat Batar Manaik ini adalah acara adat tahunan. Biasanya   dilakukan pada bulan Agustus.

“Tahun ini acaranya kita lakukan terlambat karena masih dilakukan persiapan. Sebab, kali ini kita mendapat dukungan dari pemerintah baik kabupaten maupun pusat”, kata Dominikus.

Hal senada disampaikan Kepala Suku Ni Ha’a Fransiskus Atok. “Kita senang sekali karena tradisi adat Batar Manaik kali ini mendapat dukungan dari pemerintah”, kata Fransiskus.

Kepala Desa Builaran Alfons Luan menjelaskan, tradisi Batar Manaik berlangsung turun-temurun dari generasi ke generasi.

Dikisahkan, Batar Manaik itu sendiri sebetulnya bibit jagung yang pada zaman dahulu disiapkan raja di istana. Saat musim tanam tiba, raja membagi-bagi bibit jagung kepada warga.  Jagung yang diterima itu ditanam di kebun masing-masing.

“Saat panen, warga memasukkan kembali jagung ke istana sebagai bibit. Pada musim tanam berikutnya, raja bagi-bagi lagi bibit jagung itu kepada warga untuk ditanam”, kata Alfons.

Sesuai pantauan TIMORline.com, Rabu (26/09), warga yang merupakan anggota Suku Katuas Uma Bot Liurai pada kumpul di Tafatik (Balai) Adat Liurai. Tepatnya di tengah-tengah perkampungan Desa Builaran. Tua-muda, laki-perempuan dan anak-anak berbaur menjadi satu.

Mereka latihan beberapa tarian yang akan dipentaskan saat acara puncak, Jumat (28/09). Antara lain Tarian Tebe Bot, Tarian Lalok Dato, Tarian Likurai dan  Tarian Hananu Hare. (cyk/til).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *