Futu Manu, Tradisi Turun-temurun di Kerajaan Liurai Malaka

BETUN, TIMORline.comFutu Manu atau sabung ayam merupakan tradisi turun-temurun di lingkungan Kerajaan Liurai Malaka yang berkedudukan di Builaran Desa Builaran Kecamatan Sasitamean Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal ini diakui Kepala Desa Builaran Alfons Luan, Kepala Suku Ni Ha’a Fransiskus Atok dan Kepala Suku Uma Katuas Bot Liurai Dominikus Mali, Rabu (26/09/2018).

Kepala Desa Builaran Alfons Luan menjelaskan,  dulu futu manu tidak dilarang atau tidak ada izin. Tetapi, di zaman sekarang, permainan ini dilarang. Sebagai hiburan pada acara-acara tertentu harus ada izin dari pihak kepolisian.

Karena itulah, futu manu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi adat Batar Manaik Malaka tahun ini, pihak penyelenggara harus meminta izin dari pihak Polsek Sasitamean.

“Izin futu manu dari Polsek sudah ada”, kata Alfons.

Kepala Suku Katuas Uma Bot Liurai Dominikus Mali (kiri) dan Kepala Suku Ni Ha’a Fransiskus Atok (kanan). (Foto: Cyriakus Kiik/Timorline.com).

Kepala Suku Ni Ha’a Fransiskus Atok mengatakan, futu manu merupakan tradisi turun-temurun.  Pun merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi adat Batar Manaik Malaka. Sehingga, bersamaan dengan tradisi adat ini digelar futu manu selama berlangsungnya tradisi adat Batar Manaik Malaka setiap tahun pada bulan Agustus.

Secara adat, kata Fransiskus, futu manu dibenarkan dan diakui pemangku kerajaan yang berlaku sah. Sehingga, secara  praktik, para pelaku atau pemain futu manu yang menang harus memasukkan paha ayam mentah sebelah ke rumah adat atau Tafatik Uma Katuas Bot Liurai, ditambah uang Rp50.000.-

“Paha ayam dan uang itu dimaksudkan sebagai wujud permohonan anak-cucu kepada para leluhur untuk selalu berhasil dalam setiap usaha dan sehat selalu”, kata Fransiskus diamini Dominikus Mali, Kepala Suku Uma Katuas Bot Liurai.

Menurut Dominikus, dari dulu sampai sekarang memang futu manu merupakan acara hiburan saat acara Batar Manaik Malaka.

“Kita bangga karena tahun ini pelaksanaan tradisi batar manaik Malaka mendapat dukungan  pemerintah”, demikian Dominikus.

Sesuai pantauan TIMORline.com, futu manu melibatkan warga setempat. Baik tua maupun muda. Mereka taruhan  ratusan ribu.

Untuk menghindarkan warga terutama para pelaku dari hal-hal yang melanggar hukum, misalnya berkelahi, saat futu manu, ayam petarung dilepas dalam kandang berukuran 2 x 2 meter. Sedangkan para pemilik ayam dan warga lainnya hanya menonton dari luar kandang. Bila salah satu ayam petarung kalah dengan cara mati di tempat dalam kandang atau lari keluar dari kandang, pertarungan pun diakhiri.

Pada hari pertama, Rabu (26/09), diketahui setidaknya ada tiga pasang ayam yang dipertarungkan. Paha ayam petarung yang kalah dimasukkan ke rumah adat katuas bot melalui salah satu kepala suku yang duduk di antara kepala suku lainnya di bawah pohon beringin ksadan (balai) suku.  (cyk/til).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *