LP3BH Manokwari Desak Polisi Bebaskan Puluhan Aktivis Papua

MANOKWARI, TIMORline.com-Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari Yan Christian Warinussy mendesak  Kepolisian Resor (Polres) Bintuni segera membebaskan para aktivis Papua yang saat ini sedang dimintai keterangan di Polsek Bintuni. Mereka diduga melakukan demonstrasi mendukung United Liberation Movement of West Papua (ULMWP) pada Sabtu (08/09/2018) sekira pukul 08:00 WIT.

“Saya mendesak Kapolres Bintuni dan Kapolsek Bintuni untuk melepaskan para aktivis ini, sekaligus memberikan akses yang seluas-seluasnya bagi para terperiksa untuk mendapat bantuan hukum dari advokat dan atau pengacara yang mereka tunjuk sendiri berdasarkan amanat Pasal 54, 55 dan 56 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP),” kata  Yan melalui siaran persnya yang diterima media di Manokwari, Sabtu (08/09) tadi siang.

Yan mengaku telah menerima laporan dari Pos Kontak Bintuni. Laporan itu menyebutkan, sedikitnya 35 warga sipil yang melakukan aksi damai mendukung ULMWP ditangkap dan dibawa untuk menjalani pemeriksaan di Kantor Polsek Bintuni.

“Belum jelas apa yang menjadi alasan penangkapan para aktivis pro Papua Merdeka tersebut. Tapi berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MKRI), menyatakan, pengibaran bendera Bintang Kejora tidak boleh ditangkap,” tegasnya.

Yan Christian Warinussy. (Foto; Dok/Timorline.com).

Menurut Yan, dalam pertimbangan hukumnya, MK menyatakan, mereka (orang Papua) tidak boleh dipidana lantaran punya bendera sendiri.  Sebab, bendera itu tidak boleh dimaknai sebagai persiapan makar.

“Putusan MK tersebut melahirkan pandangan bahwa polisi harus berhati-hati dalam menerapkan pasal makar terhadap seseorang. Sebab, penangkapan terhadap seseorang yang dituduh makar, harus ada bukti permulaan atau perencanaan terhadap upaya makar itu sendiri,” ujarnya.

Ada pun kronologis aksi itu. Pada Sabtu 8 September 2018, massa yang mengatasnamakan masyarakat adat Teluk Bintuni melakukan aksi demo damai dengan membawa bendera Bintang Fajar dan Tabut Allah. Aksi dikoordinir Demianus Wekaburi dan David Suaberaro. Aksi dimulai dari Jembatan Kali Tubi Jalan Raya Teluk Bintuni pada pukul 08.00 WIT.

“Setelah berjalan kurang lebih 500 meter, masa dihadang pasukan Brimob bersenjata lengkap kemudian digiring ke Polsek Bintuni untuk diinterogasi. Sampai saat ini mereka masih sedang dalam pemeriksaan polisi,” demikian Yan. (mel/til)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *