Poktan Desa Builaran Tanam Bawang Bima-Brebes 10 Hektar

MASYARAKAT 127 desa di Kabupaten Malaka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak tiga tahun lalu diperkenalkan pada Program Revolusi Pertanian (RPM). Salah satu komoditi unggulannya adalah bawang merah varietas Bima-Brebes.

Untuk 2018, tanaman bawang merah dilakukan di Desa Builaran Kecamatan Sasitamean. Inilah satu dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Malaka. Untuk penanaman bawang merah, Kepala Desa (Kades) Builaran Alfons Luan bersama masyarakatnya menyediakan lahan seluas 10 hektar.

Kades Alfons yang ditemui TIMORline.com di kediamannya, Senin (03/09/2018), merincikan, 10 hektar lahan itu menyebar di empat Kelompok Tani (Poktan). Ke-4 Poktan itu adalah Poktan Hadomi berjumlah 28 anggota mengelola lahan 2,5 hektar, Poktan Sari Alam berjumlah 26 anggota mengelola lahan  2,5 hektar, Poktan Troi Harekain terdiri dari 25 anggota menggarap lahan 2,5 hektar dan Kelompok Tani Wanita Tani (KWT) Kasih Sejahtera terdiri dari 20 anggota mengelola lahan 2,5 hektar.

Untuk memperlancar penggarapan lahan, pihak Pemerintah Desa (Pemdes) Builaran melalui dana desa Tahun Anggaran 2018 melakukan pengadaan motor air, pompa, selang air 50 meter dan selang pengisap air lima meter.

“Barang-barang ini diberikan kepada semua kelompok tani. Kita di sini ada empat kelompok tani. Semua dapat motor air, pompa air, selang dan selang pengisap air”, kata Kades Alfons.

Pekan lalu, TIMORline.com mendatangi langsung desa ini dan menyaksikan sendiri aktivitas anggota Poktan Sari Alam melakukan penanaman bawang merah varietas Bima-Brebes di lahan mereka.

Anggota Kelompok Tani Alam Sari didominasi ibu-ibu. (Foto: Timorline.com/Cyriakus Kiik).

Poktan ini didominasi ibu-ibu. Sisanya bapak-bapak. Mereka berbaur menjadi satu melakukan penanaman. Lahan penanaman bawang ini berada di dekat kampung. Jauhnya hanya 50 meter. Pemukiman penduduk dan kebun bawang milik Poktan Sari Alam hanya dipisahkan sungai.

Sungai yang letaknya tak jauh dari kebun bawang memudahkan anggota kelompok untuk melakukan penyiraman. Teknisnya, anggota kelompok menghidupkan motor pompa air. Kemudian tarik selang air sepanjang 50 meter ke dalam kebun. Selanjutnya melakukan penyiraman.

Siang itu, matahari  berada tepat di atas ubun-ubun. Meski teriknya sangat menyengat, mereka melakukan penanaman penuh canda-tawa. Ada yang bertugas membuat lubang. Ada yang tanam. Ada yang memberi aba-aba apakah jarak tanamnnya tepat atau tidak.

Siang itu, mereka menghabiskan bibit bawang dua bokor hitam besar.

Ketua Poktan Sari Alam Theresia Moru menjelaskan, sebelum dilakukan penanaman, semua anggota Poktan mendapat sosialisasi dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Yohana Seran.

“Jadi, kita tanam bawang sesuai arahan PPL”, kata Theresia.

Ketua Poktan Alam Sari Theresia Moru (kiri) bersama salah satu anggotnya sedang membersihkan bawang yang direndam dua jam sebelum ditanam. (Foto: Timorline.com/Cyriakus Kiik).

Mengutip arahan PPL, Theresia menjelaskan, bibit bawang  ditanam setelah direndam dua jam menggunakan obat. “Jadi, bibit bawang direndam dua jam menggunakan obat baru ditanam. Kita rendam bibit boleh lebih dari dua jam tetapi tidak boleh kurang dari dua jam”, kata Theresia.

Theresia mengaku sangat bangga dengan Program RPM. Sebab, program ini bersentuhan langsung dengan masyarakat. “Baru kali ini kami rasakan program pemerintah”, tandas Theresia.

Tokoh adat yang Ketua Suku Ni Ha’a Bere Seran Balibo Petrus Metak Kone mengatakan, program RPM sangat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat. Sebab, dalam program ini, pemerintah yang pacul lahan masyarakat. Traktor disiapkan pemerintah. Bibit, pupuk dan obat-obatan juga demikian. Masyarakat hanya siapkan lahannya.

“Kita harap program ini berkelanjutan”, tandas Petrus.

Dia menjelaskan, untuk menjaga tanaman bawang pada malam hari dari ancaman binatang, anggota membagi tugas jaga malam. Sehingga, mereka juga buat pondok di kebun.

“Di sini ada pondok. Kita buat pondok untuk istirahat siang dan jaga malam”, demikian Petrus.

Soal pemasaran, baik Kades Alfons,  Ketua Poktan Theresia maupun  tokoh adat Petrus, belum memikirkannya. Bagi mereka, untuk saat ini yang paling penting adalah bisa memenuhi kebutuhan dalam rumah.

“Kalo kita jual tapi tidak makan, apa yang terjadi. Lapar kan”, demikian Kades Alfons diamini Theresia dan Petrus.

Program RPM dicanangkan Bupati Malaka Stefanus Bria Seran pada 31 Agustus 2016 di Desa Kletek Kecamatan Malaka Tengah. Untuk program ini, setidaknya ada delapan produk unggulan yang dikembangkan, yakni bawang merah, padi, jagung, kacang, pisang, itik, kambing dan ikan bandeng.

Khusus bawang merah, selain dikrmbangkan di  Desa Builaran pada 2018 ini,  juga dikembangkan di Desa Fafoe, Umatoos, Oanmane, Sikun dan Motaain pada 2017.  Hasilnya, sempat diimpor ke Timor Leste.

Editor: Cyriakus Kiik

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *