Bendera Merah Putih Tetap Berkibar di Perbatasan Timor

MOTAAIN, TIMORline.com-Peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-73 Tingkat Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu Propinsi Nusa Tenggara Timur ((NTT) dipusatkan di  Pantai Motaain Desa Silawan. Kegiatan ini  diwarnai aksi heroik Johanes Gama Marshal Lau. Siswa SMP Negeri Silawan ini berhasil menyelamatkan   bendera Merah Putih yang nyaris gagal berkibar di wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste itu.

Saat itu suasana mencekam. Pasukan pengibar bendera nyaris gagal menaikkan bendera Merah Putih. Insiden itu terjadi karena  tali bendera putus. Sudah begitu tersangkut lagi di pengait tali bendera.  Tamu undangan yang hadir tidak sanggup melihat insiden tersebut.  Semua pada cemas. Panik pula. Tiba-tiba muncul seorang bocah. Dia bergerak cepat. Tiang bendera didekati penuh percaya diri. Semangat heroiknya ditunjukkan. Tak peduli tamu.undangan dan peserta upacara yang hadir. Dia nekat memanjat tiang bendera tanpa fasilitas bantu apa pun.

Dari bawah sempat terdengar seruan kuat melalui  pengeras suara agar bocah berseragam putih-biru itu  itu turun. Tetapu dia tetap melanjutkan memanjat tiang bendera  hingga ke puncak.

Upaya bocah itu  berhasil. Tali yang tersangkut berhasil dibuka. Bendera Merah Putih  dikibarkan. Megah melambai-lambai di langit Pantai Motaain, wilayah  Indonesia di bagian utara  Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan  negara Timor Leste.

Sebelum membaca sambutan Bupati Belu, Wakil Bupati Belu Drs. J.T. Ose Luan  mengatakan, peristiwa yang baru saja terjadi janganlah ditafsir dengan pelbagai pemikiran. Tetapi, harus dilihat dalam keberadaan  negara ini sebagai kebesaran dan kebanggaannya sebagai salah satu bangsa  yang besar di dunia.

“Dalam segala persiapan yang dilakukan, bisa saja ada hal-hal kecil yang terjadi seperti tadi. Bangsa ini tetap jaya dan tidak akan terganggu dengan apa pun tindakan dan perbuatan orang- orang yang tidak bertanggungjawab yang ingin mengganggu keutuhan NKRI, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, karena terhimpun dalam Bhinneka Tunggal Ika,” tandas Wabup.Ose.

Menurut dia,   tidak mudah  kita memperoleh kemerdekaan itu. Bila kita ikuti perkembangan sejarah, sejak sebelum proklamasi kemerdekaan, begitu banyak pejuang berkalang tanah  dan menumpahkan darah, hanya untuk mempertahankan  peristiwa-peristiwa seperti  yang tadi terjadi.

Aksi heroik Yohanes Gama Marshal Lau menyelamatkan pengibaran bendera Merah Putih di Pantai Motaain Desq Silawan Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu. (Foto: Facebok).

“Seorang anak kecil dengan begitu sikap hebatnya, memanjat tiang ini dan kemudian dapat mengatasi masalah itu, sehingga kita semua yang tadi bingung itu menjadi tersenyum kembali,” ucap Wabup Ose sembari meminta bocah itu mendekat  ke sampingnya.

Menurut Wabup Ose, di tengah kebingungan  untuk memberikan penghormatan kepada sang merah putih, justru ada yang memberikan kesempatan. “Ini pahlawan kecil untuk pagi hari ini. Saya memberikan apresiasi khusus dan hari Senin, ade, engkau ke saya punya kantor,“  kata Wabup mantan Kepala Kantor Sosial Politik (Kakan Sospol) Kabupaten Belu ini.

Ditegaskan, bangsa ini tidak akan terganggu dengan radikalisme dan  segala perbuatan yang tidak bertanggungjawab untuk mengganggu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), apa pun cara mereka. Sebab, negara  punya cara untuk mengatasi mereka.

“Kita merdeka, sekali merdeka tetap merdeka. Kita tidak akan pernah langkah mundur satu jengkal pun tetapi kita akan maju terus. Bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa, berbeda-beda pulau dengan topografi dan iklim, kita punya 714 suku, beribu-ribu pulau, sekian agama dan budaya.

“Semuanya dipersatukan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Tidak gampang dan tidak mudah kita memperebutkan kemerdekaan itu, memproklamirkan dalam satu situasi yang begitu rumit. Tetapi kebesaran jiwa dan kebanggaan sebagai bangsa yang dipersatukan dengan pikiran dan filosofi dasar Pancasila maka kemerdekaan itu tetap kita jaga, kita bina, sampai dengan detik hari ini,” tandas Wabup Ose.

Wabup yang dikenal disiplin ini  mengapresiasi  kemajuan bangsa ini dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui program Nawacita, membangun dari daerah pinggiran Indonesia.

“Di tepian negeri, republik ini berbatasan dengan saudara-saudara kita di Timor Leste. Hari ini kita melaksanakan upacara di sini untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang hebat, bangsa yang tetap jaya, bangsa yang merdeka dan tetap merdeka. Oleh karena itu, hilangkan pikiran  atas kejadian tadi sebagai sebuah kesalahan kecil atau kelengahan kecil dan tidak dipermasalahkan lagi kemudian dijadikan gosip di facebook dan lain-lain,”  begitu Wabup Ose mengingatkan.

Dari podium Inspektur Upacara 17 Agustus 2018, Wabup Ose menyampaikan terimakasih atas upaya penyelamatan pengibaran bendera Merah Putih saat upacara berlangsung.

“Saya berterimakasih.  Kejadian ini menggugah saya. Air mata saya jatuh lihat anak ini panjat, malah saya suruh turun, saya takut dia jatuh. Jangan kegagalan dan kelalaian atau kealpaan kita, dengan tidak memperhatikan itu, saya tidak tahu, tali yang putus atau pasang dia punya tali atau apa, tetapi ini pembelajaran untuk kita semua,” demikian Wabup Ose.

Turut hadir, peserta Sekolah Staf Dinas Luar Negeri Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Camat Tasifeto Timur, Danramil, Kapolsek, Dansatgas Pamtas RI-Timor Leste, anggota TNI/Polri, para kepala desa, para kepala SD, SMP dan SMA se-Kecamatan Tasifeto Timur, para guru dan karyawan-karyawati, para murid SD, SMP dan SMA se-Kecamatan Tasifeto Timur, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, para veteran, tokoh pemuda dan tamu undangan lainnya. (cyk/til).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *